RURUNG NUNGKAK: GARIS KETURUNAN KRAMA NGAREP DESA ADAT BUGBUG
Generasi ke 7 Keluarga Rurung Nungkak Desa Bugbug
Keluarga Rurung Nungkak merupakan salah satu garis keturunan tertua dan utama dalam struktur Krama Ngarep di Desa Adat Bugbug, Karangasem. Sebagai bagian dari kelompok pendiri desa atau warga pemula, Rurung Nungkak memiliki posisi yang sangat penting secara adat maupun spiritual dalam tatanan kehidupan masyarakat Bugbug sejak zaman awal pembentukan desa.
Dalam sistem kemasyarakatan Bali, Krama Ngarep dikenal sebagai kelompok yang memiliki kewajiban utama dalam pelaksanaan upacara-upacara adat dan agama, serta menjadi pilar dalam menjaga kesinambungan tradisi leluhur. Keluarga Rurung Nungkak mewarisi tanggung jawab ini secara turun-temurun, tidak hanya melalui peran sosial, tetapi juga melalui pelaksanaan ritual khusus yang tidak umum dilakukan oleh warga desa lainnya.
Salah satu ciri khas keluarga Rurung Nungkak di desa Bugbug adalah tradisi melaksanakan upacara Ngaskara setelah Ngaben, sebuah ritual lanjutan untuk menyucikan roh leluhur sebelum dihaturkan ke Pura Dukuh. Tradisi ini dijalankan oleh keluarga besar Rurung Nungkak sebagai warisan leluhur yang sangat sakral dan eksklusif.
Setelah upacara Ngaben, abu leluhur dari keluarga ini tidak dihanyutkan atau ditanam di tempat umum, melainkan ditanam secara khusus di Pura Dukuh, pura yang memiliki keterkaitan spiritual langsung dengan asal-usul Rurung Nungkak. Pura ini menjadi tempat pemujaan roh leluhur serta pusat spiritual bagi keturunan Rurung Nungkak.
SILSILAH AWAL KELUARGA RURUNG NUNGKAK
Leluhur pertama keluarga ini yang datang dan menetap di Desa Bugbug adalah I Karda, yang menempati sebuah rumah di kawasan Badelod (Terak Ningkig). Di tempat ini, beliau membangun sanggah kawitan berdampingan dengan pelinggih Dalem Segening, yang hingga kini tetap dijaga dan dihormati sebagai pusat spiritual keluarga.
Dari I Karda, lahirlah dua orang anak:
• Rasana
• Rasani
Dua nama ini menjadi titik awal perkembangan keturunan Rurung Nungkak yang kini tersebar dan tetap memegang teguh adat serta kewajiban spiritual sebagai bagian dari Krama Ngarep Bugbug. Generasi-generasi selanjutnya
Hingga kini, keturunan Rurung Nungkak tetap menjaga garis keturunan dan adat istiadatnya dengan penuh kesadaran. Beberapa keturunan generasi ke-8 termasuk I wayan Sudarta Bos, I Wayan Sudarma, I Nengah Suarna Dwipa, I Wayan Sutama, I Ketut Sauca, I Nyoman Suwita,, I Wayan Sutrisna, I Nengah Royik, I Nengah Puger, I Wayan Wasih, Merta Loka, Duduk Kejer, I Nengah Wage, I Myoman mandra , I Komang Budi Adi Tanaya, I Ketut Taman, I Nengah Dwpawan, I Nengah Riyem, I Nengah Tangun (sundul) dan beberapa lainnya yang selalu aktif dalam kegiatan ngayah di desa adat Bugbug.
Melalui keberadaan keluarga Rurung Nungkak, dapat disaksikan bagaimana identitas desa dan adat istiadat Bugbug tetap bertahan, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi sebagai bagian dari jati diri spiritual dan sosial masyarakatnya.

Comments
Post a Comment